Jakarta, 25 September 2026 — Indonesia memiliki kekayaan alam yang membentang dari hutan hingga laut. Namun, berbagai tekanan terhadap lingkungan menunjukkan bahwa kelestarian ekosistem masih menghadapi tantangan serius. Deforestasi, pencemaran, praktik penangkapan ikan yang merusak, hingga perubahan iklim memberikan tekanan terhadap ekosistem darat dan laut.
Di daratan, kehilangan hutan menjadi salah satu persoalan utama. Data Auriga Nusantara mencatat 433.751 hektare hutan alam hilang sepanjang 2025, meningkat 66 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 261.575 hektare. Deforestasi tercatat terjadi di 383 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia.
Kerusakan hutan tidak hanya mengancam habitat berbagai satwa dan tumbuhan, tetapi juga dapat meningkatkan kerentanan wilayah terhadap bencana. Pada akhir November 2025, banjir bandang dan tanah longsor menerjang sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Berdasarkan catatan BNPB per 1 Desember 2025, lebih dari 600 orang meninggal dunia dan lebih dari 1,5 juta orang terdampak.
Sementara itu, ekosistem laut juga menghadapi tekanan. Pada April 2025, International Coral Reef Initiative (ICRI) bersama NOAA melaporkan bahwa 84 persen terumbu karang dunia terpapar panas yang memicu pemutihan karang sepanjang Januari 2023 hingga Maret 2025. Indonesia termasuk salah satu negara yang terdampak.
Kondisi terumbu karang Indonesia sendiri telah menjadi perhatian. Pemantauan LIPI pada 2019 terhadap 1.153 titik menunjukkan bahwa 33,82 persen terumbu karang berada dalam kategori buruk, sementara hanya 6,42 persen yang masuk kategori sangat baik.
Tekanan terhadap laut juga datang dari aktivitas manusia. Pada Agustus 2026, Kementerian Kelautan dan Perikanan menangkap kapal KM Nurmaulina beserta lima awaknya di perairan Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Petugas menyita sekitar 20 kilogram ikan yang diduga merupakan hasil penangkapan menggunakan bahan peledak.
Selain itu, pencemaran mikroplastik turut menjadi ancaman bagi ekosistem laut. Penelitian di Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, menemukan kandungan mikroplastik pada sedimen meningkat 19,4 persen dalam kurun Maret 2022 hingga Maret 2023. Mikroplastik dapat mengganggu organisme laut dan berpindah melalui rantai makanan hingga berpotensi dikonsumsi manusia.
Kerusakan ekosistem darat dan laut memiliki keterkaitan yang erat. Di Raja Ampat, Papua Barat Daya, investigasi sejumlah lembaga swadaya masyarakat menemukan sedimen dari aktivitas tambang nikel menutupi wilayah pesisir dan terumbu karang.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa menjaga laut tidak dapat dilakukan secara terpisah dari perlindungan ekosistem daratan. Sampah dari daratan dapat terbawa sungai menuju laut, sementara hilangnya hutan berkontribusi terhadap peningkatan emisi karbon dan pemanasan laut yang dapat memicu pemutihan karang.
Hutan dan laut Indonesia merupakan habitat bagi beragam spesies serta menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kelestarian habitat menjadi kunci untuk mempertahankan keanekaragaman hayati sekaligus mendukung keberlanjutan kehidupan manusia.
Menjaga kelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menjaga hutan dan laut, melindungi flora dan fauna, serta memastikan sumber daya alam tetap terjaga bagi generasi mendatang.
Sebab, menjaga hutan dan laut bukan hanya tentang melindungi alam hari ini, tetapi juga memastikan keberlangsungan kehidupan di masa mendatang. Karena alam yang lestari adalah sumber kehidupan yang akan terus menjaga kita.
(Sumber : Auriga Nusantara, BNPB, ICRI, NOAA, LIPI/BRIN, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta hasil penelitian dan laporan lembaga)




Komentar