Menurut data terbaru Kementerian Kehutanan, luas lahan berhutan di Indonesia pada 2024 mencapai 95,5 juta hektare, atau sekitar 51,1% dari total daratan negara ini. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo, serta negara dengan hutan terluas ke-8 secara global, mencakup sekitar 2,3% dari total tutupan hutan dunia (yang diperkirakan mencapai 4,1 miliar hektare).
Namun, laporan Forest Watch Indonesia (FWI) memberi gambaran yang sedikit berbeda dan lebih spesifik pada hutan alam: sisa hutan alam Indonesia pada 2025 diperkirakan tinggal 88,43 juta hektare, atau 47% dari daratan turun sekitar 1,06 juta hektare dari tahun sebelumnya. Perbedaan angka ini mencerminkan metodologi pengukuran yang berbeda, tetapi arah trennya konsisten: tutupan hutan alami terus menyusut.
Istilah paru-paru dunia muncul karena hutan hujan tropis menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar dan melepaskan oksigen melalui fotosintesis. Selain itu, Indonesia punya aset unik: lahan gambut tropis terluas di dunia, terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Gambut ini menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar jauh lebih padat per hektare dibanding hutan mineral biasa, sehingga jika dikeringkan dan terbakar, ia bisa melepaskan emisi karbon dalam jumlah masif sekaligus, seperti yang terjadi saat kebakaran hutan dan lahan besar dalam beberapa tahun terakhir.
Sayangnya, tren deforestasi belum sepenuhnya terkendali. Data resmi Kementerian Kehutanan mencatat deforestasi neto pada 2024 sebesar 175,4 ribu hektare hasil dari deforestasi bruto 216,2 ribu hektare dikurangi reforestasi 40,8 ribu hektare. Sejumlah laporan media bahkan menyebut angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya, didorong oleh ekspansi perkebunan sawit, penebangan kayu, pertambangan, dan kebakaran hutan-lahan yang berulang tiap musim kemarau.
Sebagai respons, pemerintah menjalankan program rehabilitasi hutan dan lahan seluas 217,9 ribu hektare pada 2024, di samping kebijakan moratorium izin baru di hutan primer dan lahan gambut yang sudah berjalan sejak beberapa tahun yang lalu.
Karena perannya sebagai penyimpan karbon dan gudang biodiversitas kelas dunia, kondisi hutan Indonesia langsung memengaruhi upaya global mengendalikan perubahan iklim. Ini juga memberi Indonesia posisi tawar dalam diplomasi lingkungan internasional termasuk skema pendanaan iklim seperti REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation), di mana negara -negara maju memberikan insentif finansial bagi upaya menjaga hutan tetap berdiri.
Menjaga hutan Indonesia, dengan kata lain, bukan cuma soal menyelamatkan Flora dan Fauna atau mencegah banjir lokal, melainkan juga taruhan bersama dalam menjaga stabilitas iklim bumi untuk generasi mendatang.
(Dikutip dari berbagai sumber)




Komentar