Edukasi
Beranda / Edukasi / Harta Karun Radioaktif: Menimbang Tambang Nuklir di Indonesia

Harta Karun Radioaktif: Menimbang Tambang Nuklir di Indonesia

Indonesia belum memiliki tambang uranium atau thorium yang beroperasi secara komersial. Namun, sejumlah wilayah menyimpan potensi bahan baku nuklir, mulai dari Kalan di Kalimantan Barat hingga mineral monasit di Bangka Belitung.

BRIN menyebut potensi uranium dan thorium Indonesia mencapai sekitar 90.000 ton dan 140.000 ton. Namun, angka potensi sumber daya perlu dibedakan dari cadangan yang secara teknis dan ekonomis sudah siap ditambang.

Kalan, Melawi, Kalimantan Barat, merupakan salah satu kawasan utama penelitian uranium di Indonesia. Eksplorasi di wilayah ini telah berlangsung sejak era BATAN dan menunjukkan indikasi mineralisasi uranium yang signifikan.

Di Bangka, uranium dan thorium ditemukan antara lain dalam mineral monasit, yang merupakan produk samping pengolahan timah. Penelitian BRIN menunjukkan monasit Bangka mengandung uranium, thorium, serta unsur tanah jarang yang dapat dipisahkan melalui proses pengolahan tertentu.

Potensi tersebut semakin mendapat perhatian seiring rencana pembangunan PLTN. Pemerintah menempatkan energi nuklir sebagai bagian dari strategi energi rendah karbon, dengan target PLTN pertama beroperasi sekitar 2032–2033.

Lebih dari Sekadar Hutan, Kerinci Seblat adalah Penyangga Kehidupan Sumatera

Seperti tambang lainnya, penambangan uranium dan thorium tetap melibatkan pembukaan lahan, penggunaan air, pengolahan mineral, hingga pengelolaan material sisa yang mengandung radionuklida. Dengan begitu, aspek keselamatan, lingkungan, dan penerimaan masyarakat menjadi bagian penting dalam perencanaan pengembangan nuklir.

Bangka menunjukkan bahwa persoalan material radioaktif bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. IAEA mencatat sebagian sumber daya uranium di Bangka-Belitung berkaitan dengan endapan monasit yang terdapat dalam endapan timah dan sebagian telah terakumulasi sebagai material sisa (tailing) pertambangan.

Karena itu, sebelum potensi tersebut dikembangkan, sejumlah pertanyaan perlu dijawab: bagaimana material dan limbah radioaktif dikelola, bagaimana dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, serta sejauh mana masyarakat dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Uranium dan thorium memang berpotensi mendukung energi rendah emisi. Namun, nilai sebuah “harta karun” tidak hanya ditentukan oleh apa yang bisa diambil dari dalam tanah, melainkan juga oleh apa yang tersisa setelahnya.

 

Ketika Hujan Tak Kunjung Datang: Ancaman El Niño bagi Indonesia

Sumber:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *